MRT Jakarta for Dummies – Mengenal MRT Buat Pemula :) (1)

Okelah, mari kita lebih mengenal Moda Raya Terpadu Jakarta – MRT Jakarta, berdasarkan “penjajalan” uji coba tempo hari.

Pertama, kita kenali dulu kepanjangan MRT dalam bahasa Inggris. Ya, Mass Rapid Transit. Kira-kira artinya Transportasi Masal dan Cepat. Bedakan dengan LRT, kependekan dari Light Rail Transit, yang juga akan dinikmati masyarakat Jakarta. Sesuai namanya, ukuran kereta LRT lebih kecil dan daya angkutnya pun lebih sedikit.

Bedakan ya antara MRT, LRT dan KRL. Kereta Langsam hanyalah masa lalu, kawan | Foto: detik.com

Sekarang, mari kita “jelajahi” MRT Jakarta, sesuai rute yang saya jalani: Dukuh Atas-Bunderan HI-Fatmawati-Senayan.

Pintu masuk

Stasiun Duku Atas, Pintu Masuk Sisi Sini, Sisi Sana, Sisi Sono | Foto: Rifki Feriandi

Biasanya, satu stasiun paling tidak memiliki empat pintu masuk. Dua di sisi jalan sebelah sini, dan dua di sisi jalan sebelah sana – artinya kan seberang dari sebelah sini. Jika dibutuhkan, untuk mempermudah para pelanggan – commuter, satu statiun memiliki lebih dari empat pintu masuk. Sepeti stasiun pertama yang saya kunjungi: Dukuh Atas. Di sisi Barat saja ada paling tidak tiga pintu masuk. Dua yang kecil berada di sisi trotoar depan Bank dan satu yang cukup besar berada di dekat jalan Sudirman.  Pintu-pintu masuk itu diberi papan nama stasiunnya di sisi atasnnya.

Pintu masuk utama Stasiun Dukuh Atas. Kayak di Singapura yak | Foto: Rifki Feriandi

Pintu masuk didesain berbentuk kanopi besi-baja. Bentuknya keren deh, artistic, tidak kaku dan dikombinasikan dengan kaca-kaca yang menambah elegan. Pokoknya, tidak kalah lah dengan stasiun MRT di Singapura. BANGGAAA

Fasilitas pancuran air minum

Pancuran air minum ini bersih loh. Bukan buat cuci tangan ya | Foto: Rifki Feriandi

Sebelum memasuki stasiun Dukuh, saya cukup dikejutkan dengan menyempilnya sebuah fasilitas kecil. Pancuran air minum. Ya terkejut lah. Pancuran air minum gitu loh. Sesuatu yang sebenarnya sudah diperkenalkan di beberapa fasilitas pendidikan, tapi tidak begitu gencar diposisikan di tempat umum. Saya menikmati saat melihat pekerja konstruksi yang mencicipi air minum itu, sementara rekannya dengan wajah kaget dan tertawa tetap tidak bisa menerima kenyataan itu. Ketawa ketidakpercayaan yang tetap muncul meski saya ajak dengan mencontohkannya meminum air dari pancuran itu. Padahal, air itu memang layak minum dan disediakan oleh Palyja dan Pam Jaya. Gak nyangka euy. Keren.

Tuh, tulisannya saja Air SIAP Minum | Foto: Rifki Feriandi

Tangga panjang, concourse dan peron

Memasuki pintu masuk, maka kita akan dihadapkan dengan tangga menurun yang cukup panjang. Panjangnya tangga menurun itu adalah karena lokasi stasiun memang ada cukup dalam di bawah tanah. Informasi dari www.jakartamrt.co.id, area komersial – lantai pertama di bawah tanah tempat kita membeli tiket dan lokasi toko, berada 10 m di bawah tanah. Lantai ini disebut juga lantai concourse. Sementara itu untuk menuju ke tempat menunggu kereta, kita harus turun lagi satu lantai ke lantai peron. DI Stasiun Dukuh Atas, lantai ini berada 14 m di bawah lantai komersial.

Bagian terbawah itu lantai peron, di tengah lantai concourse | Foto: beritajakarta.id

Ketika mencapai ujung tangga di lantai komersial, saya bertemu dengan seorang pria dewasa yang sedikit memekik. “Gila. TInggi banget tangganya”.

Tangga panjang yang dilengkapi dengan arah jalan | Foto: Rifki Feriandi

Ya, tentu saja. Menurut informasi di laman yang sama, Stasiun Dukuh Atas adalah stasiun paling dalam dari bawah tanah. Sementara itu, keluhan penumpang tersebut amat sangat wajar mengingat dia – dan para penumpang lainnya – akan menempuh tangga yang panjang dan jarak yang lumayan jauh untuk mencapai lantai peron. Tapi, itu hal yang amat sangat wajar. Keluhan muncul karena ketidakbiasaan. Karena, di Negara mana pun yang memiliki MRT atau Metro, jarak dari posisi jalan utama turun sampai lantai peron memang jauh. Saya sendiri menemukan jauhnya jarak itu ketika berkunjung ke Singapura, Hong Kong ataupun Bangkok.

Sedentary tuh ya kurang gerak | Foto: http://www.sisterhoodofthesensiblemoms.com

Sebagai ganti keluhan, kenapa kita tidak berpikir keuntungan yang didapat. Cepat dan bebas hambatan perjalanan mah sudah pasti lah. Tapi, satu keuntungan lain yang saya rasakan adalah para penumpang itu “dipaksa” untuk bergerak. Dan itu bagus untuk kesehatan badan, bukan. Dengan perjalanan ke lantai peron untuk menggunakan MRT, kita jadi tidak perlu khawatir jika target 6000 langkah per hari yang disarankan, akan gampang dipenuhi.  

Ayo. Naik MRT biar kurus, eh biar sehat dan keren. Ting.

2 comments

  1. Dian

    Turun enak pas naik.. glekkk, semoga kedepannya bisa nambah jalur biar kend diatas jalan tdk terlampau padat

    1. rifkifer

      saya liat sih di area yg gak ada escalator naik, sudah ada ruang tersedia. Dan rencana kan diterusin Bunderan HI ke Kampung Bandan dan ada rencana dari Barat ke timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *