Masjid Baitul Mughni – Sederhana Memikat Hati

Setiap lewat ke Jalan Gatot Subroto, selalu ada keinginan untuk mampir ke sebuah mesjid. Terletak di sebelah gedung perkantoran, mesjid ini sudah memikat dengan sebuah kesederhanaan elegan: kubah bawang warna putih bersih.

Baitul Mughni – Elegan di antara belantara beton | Foto: Rifki Feriandi

Mesjid ini menyatu dengan yayasan pendidikan. Namun demikian, tetap terbuka untuk umum.

Sayap kanan mesjid. Lihat facade nya. Sederhana dan elegan | Foto: Rifki Feriandi

Melewati gerbang, kita akan memasuki area sebelah kanan dari mesjid arah kiblat. Dari pelataran sebelah ini makin terlihat facade berbentuk kubah bawang mesjid. Warna putih dan krem berbaur dengan railing sederhana warna hijau. Di sebelah kiri berdiri minaret atau menara mesjid. Di antara menara dan pelataran, menyempil tempat penyimpanan sepatu dengan petugas yang ramah.

Area penyimpanan sepatu | Foto: Rifki Feriandi

Di belakang area penyimpanan sepatu, kita bisa menemui area toilet dan tempat wudu. Tempat wudu pun ada yang berada di luar.

Interior mesjid dari arah belakang, selepas area wudu. | Foto: Rifki Feriandi

Memasuki area masjid, kita akan berhadapatn dengan area mihrab yang juga elegan. Curve bentuk kubah masjid menjadi sentral perhatian, tinggi. Perhatian ke area mihrab lapang, karena tiang-tiang penyangga lantai atas berada di sisi kiri dan kanan, diberi warna emas dengan dekoratif garis vertikal.

Karpet nyaman bermotif bunga | Foto: Rifki Feriandi

Mihrabnya sendiri berbentuk mirip miniatur kecil mihab Nabawi, terbuat dari kayu berukir. Yang menarik adalah atap mihrabnya itu pun masih disertai dengan kubah kayu. Dan…. tidak ketinggalan benda khas di mesjid sedehana ini: jam dinding Junghun berukiran. Tidak tanggung-tanggung.

Lis lantai dua pun tidak dipenuhi oleh kaligrafi. Sedikit ukiran | Foto: Rifki Feriandi

Sambil duduk di karpet hijau lumayan tebal dengan motif bunga warna merah, saya perhatikan bahwa mesjid ini limited dengan pernak pernik. Tidak ada jadwal solat digital yang terkadang menyita perhatian saat kubah. Bahkan, kaligrafi-kaligrafi yang sewajarnya ada di sebuah mesjid pun tidak terlalu terlihat. Termasuk lis lantai dua – yang di mesjid-mesjid lain biasanya diisi kaligrafi, terlihat sederhana dengan sedikit ukuran. Lihat juga ornamen di jendela? Sederhana bukan, dengan bentukan seperti daun.

Sutroh pun sederhana saja | Foto: Rifki Feriandi

Kesederhanaan pun terlihat dari bentuk sutroh. Kayu yang dijadikan pembatas solat itu seperti wajarnya berbentuk kubah mesjid yang sederhana dengan tulisan nama mesjid berlatar putih.

Selain sutroh, biasanya saya mencari kencleng atau kotak sedekah di tiap masjid. Soalnya suka beda-beda dan lucu. Namun di sini saya tidak menemukannya. Ternyata, di Mesjid Baitul Mughni ini ada yang khas. Setelah muadzan adzan pertama – adzan ke luar, maka ada jeda waktu beberapa menit. Waktu jeda ini digunakan untuk memberi kesempatan petugas berkeliling mengumpulkan sedekah yang ditampung kantong kain warna hijau. Kebiasaan mengumpulkan sedekah seperti ini ditemui juga di beberapa mesjid. Khusus di mesjid ini, waktu jeda itu dipergunakan dengan membaca shalawat bersamaan.

Muazin pertama adzan di shaf pertama sudut kanan | Foto: Rifki Feriandi

Yang juga menarik adalah muadzan yang mengumandangkan adzan pertama berdiri tidak di depan mimbar, seperti umumnya muadzin di tempat lain. Di Baitul Mughni ini, muadzin berdiri di sudut kanan, posisi saf pertama. Sementara untuk muadzin kedua tetap berdiri di depan mimbar dengan kebiasaan yang khas, menyerahkan tongkat khutbah kepada khotib. Sementara khatib sendiri akan menyampaikan khutbah dengan berdiri tanpa memegang meja mimbar. Ya karena tidak ada meja mimbar di mihrab itu. Di luar itu, layar monitor dimatikan agar tidak mengganggu kekhusukan jamaah.

Layar monitor bersandingan dengan rak buku dan mihrab ukiran Jepara | Foto: Rifki Feriandi

Meski terlihat sederhana dan elegan, mesjid ini ternyata dilengkapi oleh peralatan modern berupa layar proyektor. Ada empat buah layah di sisi depan, dua di lantai bawah, dua di lantai atas. Masing-masing di dinding kiri dan kanan mihrab. Proyektor itu dipakai untuk menampilkan khatib yang sedang berkhutbah. Dan utamanya dipakai untuk menampilkan Al Qur’an. Ya, di sini ada kebiasaan bagus sebelum khutbah. Yaitu membaca surat Yasin bersamaan. Jadi, jamaah pun bisa ikutan membaca Qur’an langsung dengan melihat layar.

Rak buku dari metal dengan bentuk khas | Foto: Rifki Feriandi

Nah di bawah layar monitor sendiri, terlihat ada rak buku. Banyak buku dan Al Qur’an di sana. Tidak seperti umumnya rak buku di masjid lain, rak di sini memakai stainless steel. Rak buku dengan desain khas juga ditemukan di bagian belakang mesjid.

Ya, MEsjid Baitul Mughni ini sederhana, tetapi elegan dan sangat menarik.

Kunjungan Sholat Jum’at yang sangat menyenangkan, apalagi topik khutbah yang mantap, tentang menjaga lidah, tidak menyakiti orang lain dan bagaimana Allah menutup aib manusia. Lalu, kenapa manusia justru ingin membuka aib diri dan saudaranya?

Bagi yang melintas Gatot Subroto, silakan kunjungi Mesjid Baitul Mughni.

#DariMesjidkeMesjid 5 April 2019
Baitu Mughni, Jalan Jenderal Gatot Subroto No.Kav. 26, RT.3/RW.3, Kuningan, East Kuningan, Setiabudi, South Jakarta City, Jakarta 12950

Lokasi Mesjid Baitul Mughni | Foto: screenshot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *